.................................................................

.................................................................

Jumat, 03 Juni 2016

FanFiction Yuju Gfriend_Ice Flower CHAPTER 4 [Shine OR Go Crazy?]



FanFiction
Title                 : Ice Flower
Author             : Jung Rae Ah (Ayu P.)
Main Cast        : Yuju Gfriend
Other cast         : Yeri Red Velvet, Zelo B.A.P, Suho Exo, SeHun Exo, Minho Shinee, Kim TaeYeon, etc.
Length             : Multi Chapter
Rating             :  Teen
Genre              :  School life, Olympiad story, a little comedy, etc.
Disclaimer :
*Cast belong to God and their parents
*This FF is mine. (Fiksi ini berdasarkan imajinasi author. Jika ada kesamaan karakter, cerita, kebudayaan, hal-hal yang tidak sesuai (entah itu cast, alur, latar), dan lain-lain yang terkandung di setiap unsur di dalam cerita ini. Maka, itu semua hanyalah sebuah kebetulan belaka.)
Cr : Ayupuspianingrum129.blogspot.com
A/N : Awas banyak Typo. Maaf kalau kurang seru. ^_^....
2016©Jung Rae Ah(Ayu P.)
CHAPTER 4
Shine OR Go Crazy?
♡♡♡
---Happy Reading---
Hope You Enjoy It J
♡♡♡
Akulah Venus dan Kau Matahari. Kita akan menjadi sebuah tim pemburu kebahagiaan di awal hari yang beku nan berkabut.
♡♡♡

                         “YUJU-yaaaa!!!!” Hempasan suara yang menggelikan. Darimana datangnya? Sungguh, aku keberatan dan malu jika orang lain terganggu. Aku mencoba bangkit dari ranjangku.
                         “Yuju-ya!” Orang itu terus mengetuk pintu kamarku keras-keras. Siapa orang ini? Kenapa tidak peka kalau ini hotel.
                         “Nde....” Aku menjawab sewajarnya sebelum jemariku menyentuh daun pintu. Setelah pintu tertarik kedalam, nampaklah batang hidung sosok tuyul ini.
                         “SeHun?” Reflekku keras-keras.
                         #KrikKrik #KrikKrik
                         Aku membekap mulutku rapat-rapat. Ah! Untuk apa ia datang ke kamarku sepagi ini? Dengan cepat, ku tutup kembali pintu kamarku. Tapi, eh, ia menahan dan malah cengar-cengir sendiri.
                         “Yak! Kenapa haruth terburu-buru? Aku datang kethini untuk menjemputmu.” Jelasnya seolah ia adalah yang bisa mengatur diriku.
                         “Jinjjayeo?” Aku mendelik.
                         “Ah.... kenapa keringatmu teruth bercucuran theperti itu?”
                         “Karena kau aneh.” Ucapku dengan harapan agar aku bisa menyekaknya.
                         Ia semakin menatapku keheranan. Aku masih bingung ingin bagaimana. Otakku terus berputar dan berputar, hingga pada saatnya ada sosok yang mengalihkan suasana.
                         “Apa ini drama?” Suara itu sangat familiar dengan kosa kata yang khas. Dialah pemilik kosa kata itu, Suho. Aku semakin tidak terkendali. Orang galak ini datang bersamaan dengan orang aneh di pagi-pagi buta. Jika mereka menyatu sekarang, ku pikir mereka akan melabrakku.
                         Dengan mata sinisnya, Suho berjalan pelan namun pasti ke arahku. Sehun malah ikut-ikutan sang leader. Huhu, mereka berdua semakin mendekat dan memojokiku. Beberapa langkah lebih dekat, lebih dekat, dan sangat dekat. Keringatku semakin banyak yang menetes. Adrenalinku pun naik dan tak tertahankan. Tiba-tiba, kakiku tak bisa melangkah lagi. Ya, aku terperangkap disini, di pojokkan tembok.
                         “Mwo? Mwoyeo?” Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
                         “Jangan banyak bicara. Ini bukan skenario drama.” Sentak Suho habis-habisan kepadaku yang tak bersalah ini.
                         Ia menarik tanganku layaknya hewan pengerat yang lihai membawa mangsanya. Akan diapakan diriku? Aku mulai mengatupkan kelopak mata untuk beberapa saat. Yang bisa kudengar hanyalah suara nafasnya yang tersengal-sengal. Ku rasa ini adalah drama yang di skenarioi oleh Suho sendiri. Maklum, saat perkenalan, ia pernah berkata bahwa cita-cita yang jauh dari hidupnya adalah menjadi pemain drama. Ashhh jinjja! sekarang aku semakin kedinginan.
                         “Nah, hey! Kita sudah sampai.” Seru Suho sembari melepas cengkeramannya.
                         “Hiisshh... Sakit banget tau. Dari caramu tadi, sepertinya kau sudah sering berkencan.” Ceplosku tanpa ku hiraukan apa katanya.
                         Aku mendongak. Kemudian memeriksa keadaan di sekitar. Zelo, ia berdiri di sampingku sambil tersenyum lebar ketika aku melirik ke arahnya. Aku pun menarik kedua ujung bibirku. Entah mengapa, ia tampak sangat polos ketika wajahnya diterpa oleh partikel cahaya di pagi hari.
                         Yeri. Gadis yang memancarkan semangat barunya di pagi ini. Suho dan SeHun, mereka masih cengar-cengir sendiri. Dan aku? Semakin bingung saja. Namun, saat perhatianku teralihkan oleh suasana, semua berubah. Aku mulai paham apa yang sedang dirasakan oleh mereka semua.
...
                         Mentari dengan tulus menghangatkan pepohonan yang mulai bersajak dengan dedaunan. Bunga-bunga ikut menyandarkan kehadirannya dengan selimut beraroma blossomnya. Sejuk, segar, damai. Lalu, tahukah kata apalagi yang dapat menggantikan indahnya awal musim semi yang senantiasa memekarkan hatiku? Jawabannya adalah hatimu. Hati seorang sahabat.
                         “Kalian tahu? Hari ini kita akan kedatangan professor Astrofisika.” Suho menancap gas percakapan kami.
                         “Yeah~” Hanya itu yang dikatakan Sehun.
                         “Aku tidak bisa membayangkan, sehebat apa beliau. Wauww...!” Yeri histeris sendiri.
                         “Professor Astrofisika atau Fisika?” Zelo memastikan kebenaran.
                         “Eh,, bentar-bentar.” Suho melihat chatnya semalam dengan TaeYeon Eonni.
                         “Semalam kamu mimpi buruk ya?” Tanyaku asal nyeplos lagi.
                         “Sssttt.... sok tau ya kamu. Aku bukan anak kecil yang shock habis mimpi buruk. Jangan alay deh!” ia mengoceh sambil menekan beberap tuts tombol.
                         “Aduh.... battery empty. Wahh.... Maaf ya teman-teman.” Suho memasukkan kembali ponselnya.
                         “Yah..... gimana sih!” Yeri berdecak kesal.
                         “Ya, tahu gak? Ini tuh rasanya kayak di-PHP gitu. Aihya.... jangan-jangan kamu tukang PHP nih?” Aku semakin nyerocos kemana-mana.
                         “Sudahlah. Kita tunggu saja. tapi sambil....” Zelo menyeringai. Ia pun berlari ke arah jam 10.00 menuju bukit.
                         “Ada yang mau ikut? Yuju? Yeri? Sehun? Suho?”
                         “NAEGA!!!!” Aku berteriak hingga membuat sosok yang ada di dekatku terkejut.
                         Aku mengarahkan pandangan ke Yeri sejenak.
                         “Suplai oksigen menanti,”  Bujukku kepada Yeri. Ia pun mengekoriku yang sudah berlari di belakang Zelo.
                         Jalan bermedan berat namun mampu menyalakan suluh kami kembali. Tak peduli aral rintangan yang berarti, kami menyibak segala keraguan dibalik kekuatan kami masing-masing. Tiada hal lain yang lebih membahagiakan insan sepertiku, kecuali kasih sayang keluarga dan sahabat.
                         “Keren.... kita udah sampe bukit.” Zelo menyambut rasa lelah kami yang seketika membeku menatap landscape pegunungan. Kami memang dari negara terpencil, desa yang dikepung oleh variasi pegunungan. Tetapi yang kami perlukan adalah bukti kepada dunia bahwa kami adalah tim yang handal.
                         “Yak! Kalian cepet banget sih larinya.” Suara itu lagi, pasti Suho.
                         Aku dan Zelo ber-hahaha.
                         “Eitss, salah. Kalian yang express banget. Tadi waktu aku lari duluan, aku kan nengok ke belakang. Eh, kalian masih matung berduaan.” Yeri menimpali.
                         “Arasseo. Begini, aku punya ide.” Ujar Zelo sambil menampakkan matanya yang berbinar-binar.
                         “Apaan?” SeHun mulai buka mulut.
                         “Zey, lihat depan kalian! Iya depan kalian. Itu tuh,” Zelo menunjuk view yang tak terbayarkan ini.
                         “Oh! Terus?” Sambungku.
                         “Nah, ucapin mimpi kita bareng-bareng. Setuju gak? Peraturannya simpel kok. Semakin keras dan lantang teriakkan kalian, maka akan semakin dekat mimpi yang semula jauh dari kita. oke, gimana?”
                         “S(th)etuju!!!” Seru kami berempat.
                         “Kalau gitu kita mulai dari leader aja yak. Suho?” Zelo
                         “Eh? Aku ya.... ehem....”
                         Ketika Suho menarik nafas panjang, auranya mulai berubah. Aku menjadi terpikir oleh mimpi Suho yang ingin menjadi Aktor itu. Kemungkinan besar kalimatnya akan seperti ini, ‘aku ingin menjadi aktor internasional’. Haha!
                         “AKULAH CALON ABSOLUTE WINNER IOAA.” (IOAA : International Olympiad on Astronomy and Astrophysics)
                         Deg!
                         Jantungku sekejab tertikam hebat oleh kalimat mimpinya. Apa dia melupakan mimpinya sejenak untuk menyukseskan kami semua? Apa seperti itu yang difikirkan oleh leader kami ini? Aku mulai merasakan atmosfir dingin yang terbakar oleh bayangan suasana IOAA nanti.
                         “Keren.... sekarang aku ingin mendengar mimpimu, Yeri” Zelo yang memrotokoli kami, tiba-tiba merinding sendiri.
                         “Huh..... 1, 2, 3....
                         AKU INGIN MEDALI EMAS IOAAaaa..........”
                         Yeri terkekeh. Suaranya lantang bukan main. Mungkin jika aku hanya berdua dengan Yeri, aku sudah meneteskan air mata.
                         “Baiklah. Bagus, Yeri. sekarang mari kita lihat seberapa tangguh sahabat kita yang satu ini, SeHun.”
                         SeHun maju beberap langkah. Ia menutup kedua matanya. Tangannya terlentang sejajar dengan arah tubuhnya.
                         “KAMI PASTI THUKTHETH DALAM THEGALA RINTANGAN.”
                         SeHun sangat serius. Bagaimana denganku? Bulu kudukku masih berdiri tegak. Entah mengapa pula, aku menjadi gugup. Mau tidak mau, setelah ini pasti aku.
                         “Selanjutnya, Yuju.” Zelo menatapku penuh keyakinan. Aku mengangguk kecil.
                         Ku biarkan hawa dingin ini menusuk tubuhku melalui pori-pori kulitku. Aku memandang ke masa depan.
                         “kami calon ilmuwan besar. Dan langkah kami dimulai karena kehendak tuhan. Kami pasti bisa untuk.......5 MEDALI EMAS IOAA.” Aku menjadi sumringah. Semua menatapku penuh kasih.
                         “Zelo....” Aku menarik tangannya yang ternyata lebih dingin dari yang ku kira.
                         “Sekarang giliran sahabat kita yang jenius ini.” Ucapku dengan semangat berkobar-kobar di tengah udara yang ekstrim.
                         “Eh.... aku tidak seperti itu. aku hanya rajin, Rhea.” Ia merendah. Padahal kami memang menganggapnya sangat jenius.
                         Tiba-tiba Zelo menggenggam tanganku. Matanya juga menyorot ke dalam bola mataku. Reflek, aku pun ke-Gran. Tapi setelah ia menenteng tangan yang lain, aku mulai mengerti. Kami semua bergandengan di tepi bukit yang menembus awan.
                         “Kita bersama-sama melawan berbagai lengkungan ruang waktu yang mana sedang kita lalui. Kita adalah sebuah tim yang akan memasuki dunia yang liar. Kita berlima, bukan lagi secercah cahaya putih yang penuh harapan. Tetapi juga dengan tanggung jawab yang amat berat. bahkan gravitasi pun seakan-akan terlawan olehnya. Jadi,” Ia pun menutup kedua matanya.
                         Tangannya juga bergetar, membuat air mata ini menetes tanpa seizinku. Hatiku merasakan sayatan yang tak ku ketahui apa maksudnya. Disebelahku, ada Yeri yang memangkukan rasa ketakutan di ujung matanya.
                         “Aku ingin..... KITA JAUUHHH LEBIH HEBAT DARI MUSUH KITA. Karena tidak ada yang boleh memisahkan kita semua. Kita adalah KE-LU-AR-GA.”
                         Zelo menatap kami satu per satu. Meyakinkan bahwa kami semua mampu menebarkan cinta satu sama lain. Maka, kekuatan kecil yang kami miliki akan bersatu membentuk sabuah kekuatan yang besar. Tak peduli seberapa kuat komentar dari luar ingin menghancurkan kami. Kami adalah satu jua, bersama-sama mendapatkan medali. Aku yakin, orang-orang akan segera melihat itu.
TO BE CONTINUE....
                        
                        

FanFiction Yuju Gfriend_Ice Flower CHAPTER 3 [Missing You Like Idiot]



Fan Fiction
Title                 : Ice Flower
Author             : Jung Rae Ah (Ayu P.)
Main Cast        : Yuju Gfriend
Other cast         : Yeri Red Velvet, Zelo B.A.P, Suho Exo, SeHun Exo, Minho Shinee, Kim TaeYeon, etc.
Length             : Multi Chapter
Rating             :  Teen
Genre              :  School life, Sad, Romance, Olympiad story, etc.
Disclaimer :
*Cast belong to God and their parents
*This FF is mine. (Fiksi ini berdasarkan imajinasi author. Jika ada kesamaan karakter, cerita, kebudayaan, hal-hal yang tidak sesuai (entah itu cast, alur, latar), dan lain-lain yang terkandung di setiap unsur di dalam cerita ini. Maka, itu semua hanyalah sebuah kebetulan belaka.)
Cr : Ayupuspianingrum129.blogspot.com
A/N : Awas banyak Typo. Maaf kalau kurang seru. ^_^....
2016©Jung Rae Ah(Ayu P.)
CHAPTER 3
Missing You Like Idiot
♡♡♡
---Happy Reading---
Hope You Enjoy It J
♡♡♡
Jangan bertanya padaku MENGAPA? Hanya ketika aku memikirkanmu, disaat itulah aku ingat dan merindukan semua hal darimu
♡♡♡
            Bruuhhh....
            Ku jatuhkan sebuah buku yang ku tenteng sedari tadi. Pupuslah sudah harapanku. Aku memacu langkah menuju sebuah kursi yang tersinggah di depan meja besar yang di belakangnya nampak sosok yang akan menginterogasiku.
“Apa kau pernah menderita sakit mental?” Tanya Minho sambil melepas kacamatanya. Gubrakkk! Kalimat apa yang baru saja ku dengar, hah? Enak saja ia menyelutuk seperti itu. Ia pikir, mungkin aku adalah mantan pasien sakit jiwa.
            “Mianhae.... Aku tadi hanya sedang teringat dengan seseorang.” Aku mengatakan apa adanya walau tampak seperti ada apanya.
            “Oh! Kalau boleh tau, seberapa penting dia bagimu? Dan siapakah dia? Apakah dia salah satu anggota keluargamu? Sahabatmu?” Ia manatap ke dalam mataku. Tatapan misterius yang sembari menyelusuri pikiranku. Kemudian, ia menganggukkan kepalanya sambil mengalihkan pandangan dariku.
“Atau yang paling parah, ia adalah pacar dan atau mantanmu?” Tambahnya lagi.
Mataku terbalalak mendengar ucapan ‘MANTAN’.
“Nde, orang itu adalah mantan pacarku. Sudahlah, dia tidak berguna lagi.” Aku tersendu pasrah, begitu tertekan otakku karena aku terhubung dengan bungkusan manis sinyal-sinyal kenangan dengannya.
“Kalau begitu, maafkan aku. Karena kurasa kau harus melupakannya untuk sementara waktu. Kau tahu kan akibatnya jika kau terus memikirkannya. Seperti hukum Kepler I, kau dan segala materi  di sekitarmu akan terus tertarik ke dalam orbit masalah ini. Apabila hal ini masih berlanjut, pasti kau tahu apa yang akan terjadi setelah itu.” Ungkapnya dengan tatapan sayu. Nada bicaranya seolah berkata bahwa ia tidak ingin aku merasakan luka yang mendalam karena ia pernah merasakannya. Sepertinya begitu.
“Kau benar. Tapi aku belum mampu melupakannya. Dan dengan pembicaraan seperti ini, denganmu, membuatku semakin ingin menangisinya sekarang. bodoh bukan? Aku tidak pernah tahu, mengapa aku merasa sesak disini.” Aku menunjuk ke arah dadaku.
Tak terasa, air mata ini mengalir dari ujung mataku. Dinginnya membasahi pipiku yang memerah sedari tadi. Ah, aku tidak bisa menahannya. Apalagi, Minho selalu mengingatkanku padanya. Tatapannya, senyumnya, sifat antusiasmenya, semuanya. Ini semua benar-benar gila.
“Aku mengerti Yuju. Aku juga sedang merasakan hal yang sama sepertimu.” Ia menundukkan kepala ketika aku mendongak ke arahnya.
“Aku juga sedang merindukan seseorang. Yeaph, seorang gadis pastinya. Entah karena kebetulan atau tidak, ia sangat mirip denganmu. Hanya perlu ku akui bahwa kau memiliki mata yang lebih indah, otak yang cerdas, dan sifat pantang menyerah yang tak kalah dengan kegigihan seorang laki-laki. Kau tahu tidak? Semua itu terpancar dari wajahmu walaupun tingkahmu sedang sangat membosankan dan menyebalkan.”
Aku masih melekatkan mataku ke arahnya. Pembicaraan macam apa ini? Kata-kata yang baru keluar dari bibirnya, membuat air mataku terhapus seketika. Apakah ini semacam mantera?
“Ooh! Aku tidak bermaksud mengutarakan hal diluar area pembicaraan kita. Aku beri tahu, ketika kau ingin melupakan seseorang kau harus membuang jauh-jauh segala hal tentangnya. Termasuk kebaikannya.” Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Aku melolotot kepadanya. Hatiku marah. Egoku tiba-tiba tidak bisa menerima ucapan darinya. Yang tadi bisa ku percaya, sekarang tidak.
“Betapa jahatnya dirimu. Melupakan kebaikan seseorang?”
“Jeballll (tolonglah), jangan membuat seluruh warga negara ini kecewa kepadamu. Berjuanglah untuk apa yang sedang kau perlukan saat ini. Sebuah kemenangan, Yuju. Jangan egois. Kau punya potensi yang sangat hebat. Aku juga tahu ini sakit. Aku sendiri sedang merasakannya. Yang paling sedih adalah ketika kita teringat tentang kebaikannya tetapi kita malah membencinya sekarang. Ya! Melupakannya butuh proses. Tapi kau harus tahu dimana kau meletakkan semua itu. Aku tidak ingin ketika kau sudah berjuang sejauh ini, tapi tak ada yang kau peroleh.” Jelasnya dengan nada kesakitan. Ia benar-benar memohon padaku.
“Aku mohon untuk kali ini saja. Sekali dari tahun ini.” Ia menggenggam tanganku seolah ia menaruh harapannya kepadaku.
“Ku pikir ini semua hanyalah propaganda pintar darimu. Pertama, agar kau tidak dimarahi ketika ada yang kalah. Kedua, supaya aku turut merasakan kepahitan cinta sama yang seperti kau rasakan sekarang. Aku sudah tahu. Dan penjelasanmu tadi seperti rumus luas persegi panjang saja.” Aku mengernyit.
            Ia menghela nafas panjang lalu pindah ke sampingku. Ia masih bisa tersenyum kepadaku. Menyebalkan. Di satu sisi ia senyumnya membuatku berbunga-bunga, di sisi lain ia sangat ingin aku percaya padanya. Huh! Ku buang saja wajahku.
            “Arasseo. Aku tekankan padamu satu hal. Berjanjilah untuk tidak menyerah sebelum impianmu tercapai. Itu saja. aku tidak menyuruhmu meraih sebuah nilai. Karena kemenangan yang ku maksud, kemenangan yang sebenarnya, ialah ketika kau berjuang hingga titik darah penghabisan.”
Minho langsung berkemas kemudian menghilang dariku. Meninggalkan tubuh seorang gadis ini sendirian di sebuah ruang yang lengah. Meski begitu, bayangnya masih menghantui otakku. Aku sadar bahwa mindsetku sedari tadi sangat salah. Aku sudah salah paham dengannya. Ku remas-remas telapak tanganku.
“Nan jeongmal paboya (Aku benar-benar bodoh).” Lirihku pelan. Rasa malu bercampur pilu, seperti itulah asam manis yang sedang menikam jantungku.
Aku masih di ruang ini sendirian. Aku mengusap air mataku sendiri. Uh! Biasanya ada yang peka jika air mataku sedang berguguran, sosok yang bersedia menghapus tetesan air mataku. Nan eotteokhae (aku harus bagaimana)?.
Aku tidak ingin pergi sebelum menyelesaikan satu langkah lebih maju dari teman-temanku lainnya. Aku kembali ke bangku. Menyelesaikan sebuah tugas yang penuh kegagalan. Ya, aku selalu salah memasukkan persamaan ke dalam soal. Aku menoleh ke sampingku. Lengah.
Ku pikir tadi ada sosok yang menemaniku. Yang bisa ku tanyai tentang pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi sekarang, hanya udara kosong yang tengah menemaniku. Aku memandang ke sekitarku. Hampa. Hatiku tengah menjerit di dalam dadaku yang masih sesak karena kenangan.
“Naega neomu bogosipeo (I miss you).” Aku melayangkan tatapan kosong ke sela-sela udara di bawah sinar lampu.
“Mengapa kau masih ada di pikiranku? Padahal kau tidak ada disini. Aku berusaha melupakanmu tapi aku malah semakin dekat denganmu. Inikah cinta? Cinta yang bertepuk sebelah tangan.”
Lagi-lagi, aku melupakannya sejenak namun aku malah setapak lebih dekat lagi dengannya. Medan magnet cinta ini telah mengelabuhiku. Jari-jari tanganku yang menggenggam sebuah bolpoin semakin lemah ku rasa.
Aku mencoba mengerjakan sebuah soal tentang fisika inti, tetapi malah stress ku dapat. Aku merindukannya. Itulah penyakit kronis yang ku derita sekarang.
“Kira-kira apa ya obatnya?” aku berdecak kesal.
Eh? Mengapa? Mengapa aku malah mencari hal-hal yang tidak penting sama sekali. Hari ini aku harus berkembang lebih maju dari kemarin. Aku kesini bukan untuk bermanja-manja. Issshhhhh...... AKU HARUS BELAJAR walaupun AKU MENANGIS karena hal sepele yang bisa membunuh semangatku.
Sesekali aku mengerjakan soal, lalu aku teringat padanya. Juga kepada suasana yang pernah ku ukir dengannya. Terkadang aku terbayang akan segudang cerita di ruang kosong ini. Begini rasanya. Ketika kau sedang berusaha melakukan yang terbaik demi masa depanmu, tetapi kau malah ter-blocking oleh sosok yang pernah singgah di hatimu. Pasti kalau aku anak manja, aku tidak mau berusaha mengerjakannya dan mengikuti arus kesedihan. Tetapi aku tidak ingin seperti itu. Aku tidak ingin hanyut ke arah vektor situasi. Aku ingin melawan arus karena aku pikir aku bisa.
Beberapa saat kemudian, Zelo masuk ke dalam ruangan dengan headset yang bertengger di telinganya. Tiba-tiba ia mendekatkan sebuah kursi tepat di sebelahku. Aku meliriknya dingin, ia malah mengembangkan senyum di bibirnya.
Ia pun duduk di sampingku dan menyodoriku beberapa lembar tisu. Aku menyidiknya dengan sinis.
“Kamu butuh apa enggak sih?” Tanyanya greget. Tiba-tiba ia menempelkan lembaran tisu itu ke pipiku yang lebam. Ia menelusuri setiap sudut wajahku yang basah dengan lembaran tipis tisu namun hangat. Aku masih mematung di tempatku. Zelo oh Zelo. Tingkahmu seketika menggetarkan impulsku.
“Kenapa sampe segitunya kamu ngliatin aku? Oh, iya, BTW kamu jangan nangis lagi yah.” Ia mengujar dengan manis. Berbeda dari sebelumnya, sikapnya membuat mulutku menganga lebar hingga membentuk huruf ‘O’.
“Apa urusanmu? Mengapa kau yang tadi dengan yang sekarang sangatlah berbeda?” Tanyaku kikuk. Aku masih melayangkan rasa penasaranku yang tertuju padanya.
Dengan santai, ia membuang peluh dan menatapku teduh. Sangat teduh. Bahkan bola matanya sekejap berubah menjadi sangat indah dan menyilaukan.
“Sejak pertama kali kita bertemu, aku menganggapmu sebagai sahabatku. Jadi, aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Kau hanya perlu memercayaiku.” Ia memasang salah satu dari pasangan headsetnya ke telingaku.
“Eh? Kau tidak mendengarkan apapun? Apa ini rusak?” Aku memeriksa headset yang baru ia pasangkan.
“Benar pernyataan pertamamu. Aku tidak sedang mendengarkan apapun dari headset ini.” Ucapnya sambil menunjukkan sambungan headsetnya yang tidak terpasang.
“Oke... bayangkan saja tatanan sebuah melodi yang ingin kau dengarkan. Berimajinasilah dan nikmati saja,”
Kini ia mampu membuatku tersenyum. Tidak gelak tawa, tetapi juga bukan emosional yang tak bermakna. Semua perasaan rindu ini ku biarkan hadir hingga kepalaku merasakan kenyaman akan arus rindu yang memalu sejuta perasaan sakit ini.
TO BE CONTINUE....

Soshi One

Soshi One