.................................................................

.................................................................

Rabu, 27 Juli 2016

[SHARING] Merangkai Puzzle Jurnalis “Kunjungan ke Redaksi Media Surabaya”



Nah, sekarang author mau bagi-bagi a.k.a sharing tentang pengalaman author beberapa bulan yang lalu *wat!*...iya,santai aja, ini pengalaman kunjungan Jurnalistik. Ehem... check this out!

[SHARING] Merangkai Puzzle Jurnalis
“Kunjungan ke Redaksi Media Surabaya”
Oleh : Ayu P.
Disclaimer : Anggap saja ini diary author
...
...
Maospati, 24 Februari 2016
Pukul 03.30

....
Hush...husshhhh...

                Begitulah suara angin yang melambai dingin di pori-pori kulitku. Perih. Karena dinginnya menusuk sukmaku yang sedang memikirkan hasil OSK. (dan ternyata gagal).

                Uh! Seluruh rasa sakit ini beradu meluruhkan dinding-dinding buntu yang sempat menumbangkan semangatku. Sampai kapan perjalanan penuh harapan ini sampai pada ujungnya? Aku berharap dengan perjalanan kunjungan jurnalis ini bisa membesarkan hatiku agar tak terus khawatir pada hasil olimpiade. Eitss! Tapi aku bawa buku astronomi-dalam niat kunjungan jurnalis. Hehehe...

                Selama kurang lebih 4 jam di dalam bus kecil, aku hanya menggantungkan mataku ke pemandangan luar jendela, lalu ku putar lagi ke buku astronomi yang ku buka lebar-lebar sedari tadi. Karena menunduk, itu membuat kepalaku terhanyut dalam penatnya perjalanan. Itu tidak masalah, aku masih bisa menggerakkan jemariku untuk memasang headset di kedua lubang telingaku.

                Ku putar lagu yang berjudul “Rain”. Dan biarlah alunan musik ini berpacu dalam halusinasi, membawaku ke alam fantasi yang keras. lantunan lirik “Dreaming in the rain” seolah menguatkan jiwaku yang baru berhenti istirahat.

                Cukup lengkaplah sekarang. Tajamnya aroma khas Kota Surabaya telah tercium. Kami segera mencari tujuan pertama kali, yaitu Kantor Majalah Media. Gila itu keren. Baru kali ini aku memasuki sebuah tempat hebat yang memberikan wawasan tentang jurnalis dari pukul 10.00 WIB s.d. 11.30 WIB. 

                Kami mendapat ilmu seputar jurnalis. Terutama bagaimana cari mencari dana lewat majalah, cara menulis yang baik, bagaimana cara mendistribusikan majalah, dan lain-lain. Tak lupa, sambutan hangat dari pihak Media membuat saya semakin terpacu untuk menanyakan segala hal dalam bidang jurnalis yang membuatku penasaran. 

                Banyak ilmu yang kami dapatkan dalam waktu yang tidak lama itu. setelah diberi wawasan, ada wawancara dan acara foto bersama antara kru majalah sekolah kami (Ria Air) dengan kru Majalah Media. 

                Setelah lelah menggiring kami ke siang hari yang terik, kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkeliling di kota Surabaya. Kami juga mengunjungi Tugu Pahlawan. Disana, kami menguak sejarah kota Surabaya dan mengabadikan beberapa momen yang ada. Pukul 14.30 kami pun menitih jalan menuju rumah.

                Di sela-sela kesibukkan kami, kami semua tidak lupa untuk sholat 5 waktu. Selalu kami saling mengingatkan, betapa pentingnya setiap gelombang kecil yang menabrak karang-karang jiwa kami yang masih mencari jati diri. 

                Mengasyikkan bukan? Itulah, ilmu yang saya dapatkan adalah menejemen jurnalis, sampai pendistribusian sebuah majalah. Wow! Amaj(z)ing.

                Alright! Jari author lumayan pegel nih, *tapi gak sekriting kalau author ngetik FF* hehe... Biarkan author menutup ajang curcol ini dengan beberapa patah quote dari author....

“Jika kau ada dalam kegelapan, jadilah cahaya untuk masa depan dunia yang lebih cerah. jika sinarmu padam, nyalakan. Masih padam lagi, nyalakan lagi. Masih gagal, masih gak nyala. Gak nyala lebih terang.”
Semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih sudah membaca

[SHARING] Semerbak Pengalaman Menjadi Panitia PPLS (Program Pengenalan Lingkungan Sekolah) SMA Negeri 1 Maospati




            Istilah MOS (Singkatan dari Masa Orientasi Siswa) kerap dihubungkan kepada berbagai peristiwa yang menimbulkan perploncoan sehingga sekarang MOS dihapus. Mungkin ada dari kita yang bertanya, “Lalu bagaimana cara efektif pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa baru?” “Adakah kebijakan lain?” jawabannya adalah dengan mengadakan Program Pengenalan Lingkungan Sekolah sesuai Peraturan.

            Oke, sebelumnya perlu diketahui bahwa saya pada saat menjadi panitia memangku tempat sebagai pendampng kelas. Tepatnya pendamping kelas XG. Jadi, kebanyakan pengalaman yang saya bagikan adalah selama saya menjadi pendamping keals XG tersebut.

            Dalam PPLS ini, secara psikologis, saya menerapkan prinsip yaitu tidak ingin membuat adik kelas balas dendam karena sikap saya. Kenapa? Karena ini merupakan salah satu ajang untuk berbagi ilmu kepada adik kelas. Saya tidak menganggap bahwa saya “senior” tetapi saya berpegang teguh pada keyakinan bahwa saya menjadi seorang pengajar selama kurang lebih 4 hari. Jadi, karena saya menganggap diri saya sebagai pengajar, ada sebuah tanggung jawab yang harus saya jalankan.

            Jauh dari pemikiran seorang senior (yang saya sendiri kurang ketahui), ketika menjadi pendamping kelas ternyata memerlukan kesabaran, keikhlasan, kebahagiaan, dan setidaknya ilmu atau keahlian agar kita sendiri tidak menerjunkan doktrin-doktrin bodoh kepada adik kelas (Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung). Yah kan biasanya ketika kita tidak punya keahlian, yang kita bisa lakukan adalah memengaruhi orang lain dengan doktrin. Seharusnya tidak demikian, sebuah sikap yang baik akan membuat kita dihormati oleh adik kelas. Sikap yang baik ini tentunya menjurus ke hal yang benar. Jadi tidak sekedar baik, tetapi juga benar sebagaimana adik kelas mampu memercayai kita.

            Menyenangkan sekali bisa berkomunikasi baik dengan banyak orang. Ibarat kita adalah seorang pembicara hebat yang dihargai oleh para pendengar kita. apapun itu, mereka akan mendengarkan. Saya tipikal orang yang serius, jadi saya benar-benar mengatakan apa yang saya miliki dan sesuatu itu akan bermanfaat bagi mereka. Tidak terlalu serius juga, saya tetap memberikan selingan curhatan dan komedi di sela-selanya. Sehingga mereka tidak bosan, kita pun tidak kehabisan topik pembicaraan.

            Di hari pertama, masa pra-PPLS. Pertama lumayan canggung karena yang saya hadapi adalah adik kelas yang sellisihnya 1 tahun. Perkenalan demi perkenalan, lama-lama kontak dan interaksi saya dengan adik kelas semakin kuat. Pastinya tetap ada kendala. Seperti ada satu atau dua anak yang murung terus. Entah mengapa, mereka hanya membisu ketika saya tanya. Namun, dilihat dari gestur tubuhnya, mungkin dia tidak suka dengan kelasnya karena pastilah belum saling kenal dekat. Mudah mengatasi anak seperti ini, yakni beri dia perhatian, jangan beri dia banyak pertanyaan, tetap lanjutkan keprofessionalitas kita sebagai pendamping kelas dengan menyuguhkan topik yang membuat mayoritas siswa antusias. 

            [Untuk ingin tahu topik menarik yang bisa kita bawakan, klik disini.]

             Tanggung jawab sebagai pendamping kelas cukup berat. kita yang melatih ini-itu kalau ada lomba ini-itu. salah satunya pensi. Dan kelas XG kebetulan mendapat bagian LIPSING. Bayangkan! Belum lagi adik kelas yang mau tidak mau dipaksa tampil kalau tidak ada yang mengacungkan diri. Kelas saya memang hanya latihan sekali-dua kali untuk yel-yel, lalu latihan untuk pensi cukup sehari. Inilah faktor yang membuat kekalahan pada kelas. Kenapa saya menyinkat kegiatan latihan? Alasannya adalah karena saya ingin mereka menyiapkan mental dan fisik di rumah dnegan tidak membuat mereka terbebani dengan kegiatan. Saran dari saya saja, kalau pembaca ada di posisi ini, latihlah mereka berkali-kali supaya lebih kompak. Bagaimana caranya? Dengan mengompress waktu yang ada. Apalagi kalau sudah K-13 seperti SMA N 1 Maospati ini, bel pulang sekolah berdering pukul 14.35. Ohya, menurut pengalaman saya, kekompakan datangnya tidak harus dari banyak ketemu. Antara lain datang dari sebuah tekad, kenyamanan pendamping kelas dan adik kelas saat saling berinteraksi, kegiatan sharing, dll.

            Cukuplah, karena lipsing juga kualitasnya begitu-begitu saja, dan ada kesalahan pada durasi lipsing yang terlalu lama, wajar kita kalah. Meskipun kalah, sebagai PK kita harus menanamkan nilai bahwa kegagalan bukan segalanya. Tetap buat mereka semangat.

            Di hari-hari pertama dan kedua PPLS, ada berbagai materi yang diberikan oleh guru dan kegiatan sosialisasi. Tidak terlalu berat menjadi PK di hari itu, namun memuncak kembali di hari ketiga. Meskipun lelah, jangan kehilangan senyum. Karena kita telah diberikan tempat untuk berbagi, maka beterima kasihlah dan pinta pesan kesan dari mereka. Berikut adalah kutipan bpesan kesan untuk saya sendiri selama PPLS.
           

            Apa sih gunanya pesan kesan tersebut?

            Bagi saya, tulisan mereka akan menjadi pengingat kepada saya saat terpuruk atau mengalami kegagalan (down). Pengingat tersebut adalah sebuah kenangan dimana dunia masih memerlukan kepribadian baik kita, banyak orang diluar sana yang menghargai kita, dan tetaplah maju karena banyak orang disana yang ingin kita tidak mudah menyerah. Tetaplah semangat! Ingat juga bahwa pesan kesan tersebut kita jadikan alasan atau apa, pesan kesan tersebut hanyalah secuil kecil bagian dari kepribadian kita yang mungkin tidak nampak pada saat itu.

            Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih, silahkan berkomentar dengan sopan.

Soshi One

Soshi One