.................................................................

.................................................................

Minggu, 14 Juni 2015

Fan Fiction Someday (Tiffany SNSD+Nickhun 2PM)



Fan Fiction – Someday

Title                 : Someday
Author             : Jung Rae Ah
Main Cast       : Tiffany ‘SNSD’ & Nickhun ‘2PM’
Under Cast     : Taeyeon ‘SNSD’, Seohyun ‘SNSD’, Victoria F(x), Taecyeon ‘2PM’, Wooyoung ‘2PM’, Kibum ‘Super Junior’.
Genre              : Romance, Sad, Friendship, etc.
Lenght             : multi chapter
Back Song       :
*Jin Woon – You Walking Toward Me
 *Tiffany – Only One
*SNSD – Express 999
*2PM - I’ll Be Back
Disclaimer        :
*Semua cast milik Tuhan dan Ortu masing-masing
*No Bash and No Plagiaters, so jika copas cantumkan author or Link. (Link : ayupuspitaningrum129.blogspot.com) – Gomawo

#Awas Thypo Bertebaran :D

...

Happy Reading And Enjoy It
PART 2

Dan tiba-tiba Victoria datang menampar pipi Tiffany dihadapan Taeyeon dan Wooyoung.

Prakkk!

Wooyoung melepas kaku tangan Tiffany yang sontak memegang pipi merahnya sendiri.

“Kau ini! Sudah kubilang berkali-kali, jangan mendekati namja-namja di kampus ini. Tapi ternyata orang miskin sepertimu kurang ajar sekali!” Bentak Victoria dengan raut wajah menyeramkan.

Taeyeon berusaha membela, namun harus bagaimana lagi. Dia dan Tiffany hanyalah gadis miskin dari daerah kumuh Guryeong yang diberi beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi super mewar itu karena kecerdasannya. Sudah hampir 3 tahun mereka dihina oleh anak-anak kaya yang suka pamer disana. Tapi inilah hidup, dan badai pasti berlalu. Taeyeon melirik ke arah Wooyoung, berharap jikalau Wooyoung mau membelanya.

Wooyoung menatap tajam Victoria. Ia meremas-remas telapak tangannya.

“Oppa? Gwenchana?” Tanya Victoria sok manja

“Hah! Kau mau ini?” Wooyoung mengarahkan tinju yang terhenti tepat didepan wajah Victoria. Victoria mundur satu langkah.

“Kelakuanmu itu lebih busuk dari yang kukira. Dan jangan panggil aku ‘oppa’. Aku sangat jijik, lagian kita seumuran. Dan asal kau tahu, akulah yang menyeret gadis ini masuk bersamaku.” Terang Wooyoung.

Setelah konflik dadakan itu, mereka masuk ke kelas tak terkecuali Victoria yang masih menunduk dengan segala kegelisahan. Kali ini dosen mereka datang setelah mereka ada didalam kelas, jadi amanlah riwayat mereka.

“Joheun achim (Selamat Pagi)!” Sapa Professor Kibum kepada seluruh mahasiswanya.

Belum selesai menjawab, Prof. Kibum yang tergolong muda menjadi professor itu mengabsen kelas. Kiranya tidak perlu memanggil nama mahasiswanya satu per satu, ia cukup mengabsen tugas yang diberikan olehnya kemarin.

Selesai itu, Prof. Kibum menjelaskan materi Astronomi pada mahasiswanya. Sebenarnya ini bukan mata kuliah astronomi, tapi karena observatorium disamping kampus telah direnovasi, kini astronomi menjadi tambahan materi untuk semua fakultas disana.

“Siapa yang tidak tahu Hukum Wien? Hukum Wien menyatakan bahwa makin tinggi suhu suatu benda hitam, makin pendek panjang gelombang tempat pancaran maksimum itu terjadi. Hukum Wien dapat digunakan untuk menjelaskan gejala semakin tinggi suhu suatu bintang, makin biru warnanya dan makin rendah suhunya makin merah warnanya...”

Dibalik celotehan Prof. Kibum tentang Hukum Wien, Tiffany masih menekan-nekan pipinya untuk memastikan bahwa pipinya kembali normal kembali. Betapa kesalnya ia karena bangkunya berjarak jauh dengan bangku Taeyeon, ditambah teman yang duduk dibangku sebelahnya itu dicap sebagai si jaim+cuek, Nickhun. Meski tau Tiffany mengeluh kesakitan, tetap saja Nickhun tak memperdulikannya.

Didetik-detik terakhir penjelasan Prof. Kibum, beliau memberi tugas kelompok yang tak tanggung-tanggung dikumpukan esok pagi.

“Ini adalah tugas akhir semester 6. Kuharap kalian melakukan yang terbaik. Akan saya bacakan kelompoknya. Kelompok 1 : Seohyun, Taeyeon, Wooyoung. Kelompok 2 : Nickhun, Tiffany, dan Victoria. Kelompok 3 : .....” Prof. Kibum terus membacakan hingga akhir.

...

            Saat Break Time, Tiffany duduk termangu didalam kelas bertopang dagu di bangkunya. Taeyeon telah pergi dengan Seohyun, kelas ini kosong. Tiffany sangat galau.
           
“Baru datang diusir satpam, lalu ditarik namja yang keoveran itu. Belum lagi ditampar. Ditambah aku sekelompok dengan setan-setan itu. Nappa (Jahat)! Apa salahku? Eottokhanayo (aku harus bagaimana)? Apa juga yang terjadi selanjutnya? Jangan-jangan aku dihabisi, atau jangan-jangan... Ah aniyo!” Tiffany mengacak rambutnya, membayangkan segala kemungkinan. Tiffany berfikir sejenak.

            “Jika Victoria mengatakan aku kurang ajar karena namja-namja itu bertingkah aneh padaku, aku juga tidak tahu. Kepalaku sangat pening, tapi aku pikir ...”

            “Sudahlah. Kau terlalu banyak berfikir.” Timpal seorang namja.

            Tiffany mendongak kepada namja yang mengulurkan sapu tangan biru padanya. Ia membelalakkan matanya. Mwo? Itu adalah si jaim+cuek ‘Nickhun’ dengan earphone ala-ala DJ. Pertanyaannya, kenapa dia ada disini? Sok perhatian lagi.

            “Ambillah ini. Usapkan pada pipimu yang nyaris hancur itu. Aku  sudah mencapurnya dengan obat anti lecet.” Nickhun melanjutkan percakapannya dengan Tiffany.

            “Neo! Sejak kapan kau ada disini? Mengapa kau baik padaku? Oh.. atau kau mempermainkanku? Ireokae (seperti ini)?” Tanya Tiffany ngawur setengah tidak sadar saking pusingnya. Nickhun mengerutkan dahi.

‘Gadis ini terlalu stress’ Batinnya.

            “Jika kepalamu pusing, minumlah air putih ini agar kau lebih tenang.” Nickhun mengulurkan botol air mineral padanya.

            Tiffany menatap Nichun penasaran. Ruang ini lengah, tapi mengapa Nickhun bisa tahu semua ungkapan Tiffany. Mungkin si cuek ini memasang kamera pengintai atau bisa saja dia menguntit Tiffany sejak tadi. Dia kan lumayan Genius.

            “Kalau kau tak mau ya sudah.  Aku tinggalkan semua disini.” Nickhun melangkah menjauhinya. Tiffany masih bingung dengan Nickhun yang berjalan perlahan. Beberapa langkah kemudian, seseorang menabrak Nickhun.

            Bruukkkk!

            Tiffany membekap mulutnya. ‘sial, bukankah itu Taecyeon si Wooyoung kedua? Ah... Eottokhae?’ Umpat Tiffany.

“Mianhae... Aku buru-buru,” Taecyeon membungkuk kepada Nickhun yang memasang wajah cuek itu. Nickhun hanya menata rambut sambil melanjutkan langkahnya. Dari mulut pintu, Nickhun terdiam melihat Taecyeon dari kelas sebelah itu menghampiri Tiffany. Ya, mereka bercanda tawa. Mana lagi Taecyeon mengobati gadis itu dengan tulus. Tapi Nickhun hanya bisa menatapnya dari sini, dibalik mulut pintu. Nickhun tersenyum tipis menyaksikan adegan itu. Tersungging sedikit cemburu, tapi entahlah.

            “Sebenarnya aku diam-diam menyelidikimu, Tiffany. Tak perlu kamera, karena itu pasti banyak yang tau. Aku hanya memasang perekam suara dibangkumu dan sambungan di earphoneku. Jadi meski aku hanya mengawasimu dari sini, aku tidak akan kehilangan semua keluhanmu.” Curcol Nickhun dalam hati.

...

            Setelah break time selesai, jam kosong tersaji garing dikelas itu. Semua terlihat bosan, terkecuali Nickhun. Ia memandang serius Tiffany dari ujung rambut sampai kaki. Semua terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia masih tertegun. Baginya tak ada yang membosankan selama ada Tiffany.

            ‘neol jalnasseo jeongmal (kau benar-benar hebat)! Sepertinya kau memenuhi hatiku. Kau terlalu sempurna untuk semua yang tak bisa kusebutkan. Jika aku punya kesempatan, aku akan menangkap hatimu. Kapan-kapan.’ Nickhun tersenyum lebar mengingat-ngingat hal itu.

            “Ya! Cuek! Apa yang kau lihat? Jangan menghadap ke arahku dengan raut wajah seperti itu.” Sambar Tiffany berhasil membuyarkan khayalan Nickhun yang terlalu tinggi.

            “Waeyo?” Nickhun berlagak santai.

            “Tidak boleh!” Sentak Tiffany keras-keras.

            Keributan yang tak biasa itu, membuat perhatian seisi kelas tertuju pada dua bangku paling belakang itu.

            “Stop Tiffany!!! Nanti mereka salah paham.” Nickhun memutar pandangannya ke segala arah.

            “sang-gwan eobseo (aku tidak peduli)!!!” Kesal Tiffany lebih keras.

            Tanpa ragu lagi, Nickhun meraih tangan gadis itu dan dibawanya pergi dari tatapan sinis di kelas. Tiffany sempat memukul Nickhun dengan tangan sebelah, tapi Nickhun tak merasakan sakit apapun. Yang bisa dilakukannya hanya menutup kedua mata dari sorotan berbagai pasang mata di kelasnya.

...

Akhirnya, mereka tiba didestinasi mereka, di atap gedung kampus setingi 15 lantai itu.

            “Disini, setidaknya kita aman.” Seru Nickhun membuka percakapan.

            “Ya! Apa maksudmu? Tadi kau tiba-tiba saja datang membantuku saat aku sendiri dikelas. Sekarang kau membawaku ke atap dan berkata ‘setidaknya kita aman’ hah! Sedangkan disini hanya ada kita berdua, ditempat yang tergolong jarang dikunjungi orang. Apa kau menyukaiku?” Tanya Tiffany yang to the point.

            “Eh? Menyukaimu? Dengar ya, aku hanya menyelamatkanmu dari rumor yang mungkin bisa memperburuk reputasimu di sekolah ini. Sangat disayangkan bukan?!!!”  Nickhun menjawabnya dengan makna tersirat yang to the point juga.

            “Cih~ jika tidak menyukaiku, lalu apa? Kau melindungiku dari bencana yang akan menimpaku dan kau hanya menyebut itu sebagai alasan. Lalu apa itu jika bukan menyukaiku!” Adu Tiffany sekali lagi.

            “Itu karena... karena... karena... aku..” Nickhun tergagap. Ia juga tidak tahu mengapa ingin melindunginya. Yang ia tahu, ia ingin selalu mengawasinya dan tidak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaannya pada seorang yeoja yang disukainya.

            “Sudahlah. Yang penting jangan suka mengikuti terus. Jangan pernah pula menarikku kemana pun kau ingin pergi. Kau memang kaya, kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan. Sedangkan aku, terlihat seperti sampah disini. Iya, aku memang miskin. Tapi jangan menganggap rendah diriku seolah aku yeoja murahan. Aku juga tahu, selama ini namja-namja itu menyukaiku, dan hatiku berkata mereka hanyalah temanku. Tapi aku tidak tahu mengapa aku tak bisa kabur dari tingkah aneh mereka.  Aku sangat takut.” Tiffany mulai membendung air mata.

            Suasana menjadi hening. Nickhun mulai merasakan sakitnya menjadi yappeun yeoja (gadis cantik) yang dipuja hatinya itu. Tidak tau apa-apa namun dikejar banyak namja dari mana saja yang jatuh hati padanya. Kini Nickhun sangat tertusuk, melihat Tiffany yang biasanya periang dan tak pernah bisa menyimpan dendam ternyata menyembunyikan rasa takut yang sekarang dilontarkan padanya.

            “Aku benar-benar takut!” Tiffany semakin mengutarakan rasa takutnya, bukan rasa di hatinya.

            “Arasseo... But don’t cry Fany!” Pinta Nickhun.

            “Mianhae... Jika aku juga membuatmu takut. Kembalilah lebih dulu. Dengan begitu teman-teman kita tak akan menaruh curiga padamu. Mereka pasti mengira kamu ada dipihak yang baik, pihak yang sebenarnya. Aku jamin! Dan.. jangan keluarkan air matamu lagi. Kau terlihat jelek jika menangis. Arasseo?” Nickhun bersedekap santai disitu.

Be Continue

            Oke, author mau bilang neomu neomu gomawoyo buat readers semua dari manapun kalian berasal*abaikan yang selesai baca FF author. Jangan lupa krisar~Please Leave Your Comment. Author butuh comment kalian tentang FF author, biar author bisa melesat ke genre lain yang belum author bisa. Kalo ga ada, hmmm... gimana ya? Yaudah it’s Okay That’s No Comment. So, #DropYourComment. Gomawo J
 


Senin, 08 Juni 2015

Fan Fiction-Someday (Tiffany SNSD+Nickhun 2PM)

  


Fan Fiction – Someday

Title : Someday
Author : Jung Rae Ah
Main Cast : Tiffany ‘SNSD’ & Nickhun ‘2PM’
Under Cast : Taeyeon ‘SNSD’, Seohyun ‘SNSD’, Victoria F(x), Taecyeon ‘2PM’, Wooyoung ‘2PM’, Kibum ‘Super Junior’.
Genre : Romance, Sad, Humor, Friendship, etc.
Lenght : multi chapter
Back Song :
*Jin Woon – You Walking Toward Me
 *Tiffany – Only One
*SNSD – Express 999
*2PM - I’ll Be Back
Disclaimer :
*Semua cast milik Tuhan dan Ortu masing-masing
*No Bash and No Plagiaters, so jika copas cantumkan author or Link. (Link : ayupuspitaningrum129.blogspot.com) – Gomawo.

~HAPPY READING, Hope You Enjoy It~
PART 1
~SEOUL at 6 A.M
            Pagi yang pucat. Gerimis terus menyiram Seoul sejak semalam tadi. Ditambah hawa dingin yang membuat setiap insan enggan bangun dari mimpinya. Tak terkecuali hal ini juga berlaku bagi gadis manis, Tiffany, yang dipanggil Fany oleh teman-temannya.
            Benar saja Fany masih menggeliat dibalik selimut yang sedari tadi membungkusnya. Sesekali ia membuka matanya, namun tertidur lagi. Taeyeon yang berdiri didepannya hanya bisa menggeleng untuk ke sekian kalinya sembari bersusah payah membangunkan sahabatnya itu. Taeyeon harus berteriak.
“Tiffany ~ a! Ya! Kau mau bangun jam berapa?” mata Taeyeon terus melotot i selimut putih itu.
“hah! Matahari telah berhasil menerobos kamar kita, kau tak kunjung bangun pula. Sudah siang, bangunlah!!!” lanjutnya berbohong.
Tanpa memperhatikan wajah Taeyeon yang lelah itu, Tiffany menjawab,
 “sebentar lagi. Kasihanilah aku. Semalam Appa (ayah) menelfonku hingga larut malam. Setelah itu aku membantumu menyelesaikan makalah kita. Kau ingat?” Jawab Fany dengan sedikit campuran nada protes.
“ya! Membantuku katamu? Mwo (apa)? Bukankah semalam setelah Appamu menelfon kau hanya menontonku yang sedang berfikir keras lalu kau bermain game disaat aku meninggalkanmu sebentar kesana-sini. Hah!” Taeyeon mulai naik darah.
Sebenarnya, semua yang dikatakan Taeyeon tadi adalah fakta. Semalaman Appa menelfonnya sampai tengah malam, lalu ia hanya melihati Taeyeon mengerjakan makalah. Bahkan diam-diam ia menertawakan ekspresi lucu Taeyeon yang serius di depan laptop tanpa sepengetahuan Taeyeon.
Fany terdiam sebentar. Karena merasa tak diperhatikan, Taeyeon pun membuang selimut itu.
“Ya!” Fany tidak terima.
            “Arasso (oke). Aku akan bangun, tapi apa susahnya kau berangkat lebih dulu? Tak usah menungguku.” Fany mendengus. Ia berusaha duduk sambil melemaskan otot-ototnya. Tiba-tiba ia tertawa melihat Taeyeon.
            “hahaha!” Fany tertawa bersahut-sahutan. “hahaha!”
            Mata Taeyeon membulat sempurna seketika. ‘apa anak ini tidak waras?’ pikirnya.
            “waeyo (kenapa)? Gwenchana (baik-baik saja)? Wae?” Tanya Taeyeon putus-putus.
            “anio. Melihatmu dengan ransel pink itu mengingatkanku kepada sinema Barbie yang kemarin sore aku tonton. Haha... kau lucu sekali.” Fany tertawa terpingkal-pingkal. Taeyeon mengevaluasi diri sebentar. Tidak ada yang aneh.
            “kamanhae (hentikan)!!! Mandilah, cepat! Atau kau akan terlambat!” Taeyeon memonyongkan bibirnya, Fany tambah bertepuk tangan.
            Aneh. Benar-benar aneh. Sebenarnya siapa pula yang tak kaget melihat orang yang baru bangun tidur lalu tertawa karena hal yang tak masuk akal. Tapi apakah bergembira itu tak selogis Tiffany? Hmmm... Tiffany lah yang tahu.
            “sudah jam 7. Kita naik sepeda berarti sampai disana pukul setengah delapan pas kelas kita masuk. Atau kampus sudah ditutup.” Ancam Taeyeon
            “mwo?” Sontak Tiffany menghentikan tawanya.
            “ne (iya)....?” Taeyeon mulai membelakangi Tiffany.
             Tiffany ber-puh sebentar. Dengan express Fany menerobos Taeyeon sampai membuat tubuh Taeyeon memutar bagai kincir angin. Hal ini membuatnya sedikit migrain.
            “ya! Neol (kau)!!!” Teriak Taeyeon. Dari depan pintu, Taeyeon melihat punggung Fany dengan handuk yang disampirkan dibahu menggelar ke punggungnya. Ia mulai tersenyum, pertanda Fany akan berkunjung ke Kamar Mandi.
            “baguslah kalau begitu,” Taeyeon mengangguk-angguk sebentar dengan tangan bersedekap. Taeyeon memriksa kembali bukunya. Dan sudah lengkap.
            “Taeyeon ah!!!” panggil seseorang dari belakang.
            Suara itu sangat familiar baginya, ya siapa lagi pemilik suara nge-bas agak berat namun halus kalau bukan sahabatnya, Tiffany. Taeyeon menoleh. Mulutnya menganga lebar, matanya membulat, lengkap dengan telunjuk yang terus menunjuk-nunjuk ke arah Fany yang hanya cekikikan.
            “sepertinya ada paus nyangkut di tenggorokkanku!” ucap Taeyeon nanar.
            “Paus? Nyangkut?” tanya Fany menyipitkan kedua matanya.
            “sirheo (tidak). Oh! Sudah-sudah. Lupakan saja,” Taeyeon menjernihkan pikiran. Ia berfikir bahwa Tiffany adalah hantu yang sekejab datang dengan gembira kemudian berlalu dengan sendirinya.
            ‘untung saja tawanya tidak seperti hantu dalam film-film horor itu’
            Gundah Taeyeon dalam hati. Tanpa bertanya-tanya lagi, Fany menggenggam tangan sahabatnya itu dengan maksud ‘ayo kita berangkat sebelum terlambat’ atau apalah. Taeyeon hanya bisa ‘iya, iya’.
            Diperjalanan, kedua sahabat itu benar-benar serius dengan pedalnya masing-masing. Didepan kampus, gerbang mulai bergerak. Iya. Bergerak karena Pak Satpam akan menutup gerbang rapat-rapat.
            ‘sudah dekat, aku akan masuk,’ Batin Taeyeon sambil mengayuh pedalnya 2 kali lebih cepat dari versi sebelumnya.
            ‘Jebal (tolong)... aku tidak akan membiarkanmu menutup gerbang itu. Tidak akan!’ seru Fany dalam hati.
            5, 4, 3, .... Taeyeon berhasil masuk.
            2, ....! Tiffany turun dari sepedanya lalu berdiri mendorong sepedanya cepat-cepat tanpa dirinya.
            1 !!! sepeda Fany behasil masuk.
            Lagi-lagi Taeyeon dibuat heran oleh sahabatnya itu. Sedangkan satpam yang bertugas itu, melirik ke Tiffany yang ada diluar dan sepedanya yang ada didalam secara bergantian.
            “cogiyooo (permisi) ...... !?” Teriak Fany memegang gerbang kampusnya itu.
            “mwo (apa) ? apa-apaan ini?” tanya Satpam itu sedikit kaget.
            “saya akan masuk ke kampus.” Jawab Fany dengan santai. Taeyeon yang ada didalam hanya bisa melotot dan berkedip beberapa kali.
            “Tidak bisa. Pulanglah!!! Paliga (cepat pergi)!!!” usir sang satpam.
            “anio. Saya tidak akan pulang. Bagaimana saya pulang sedangkan sepeda saya sudah berhasil masuk ke dalam. Berarti saya juga bisa masuk kedalam.” Fany mencoba membodohi satpam itu.
            “jangan membodohi saya.” Tolak sang Satpam seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Fany.
“eh?” tanya Fany kikuk.
‘Bukankah ia satpam? Kenapa ia bertingkah seperti psikolog?’ sidik Fany kebingungan.
 “Ini bukan masalah sepedamu atau apamu sudah masuk duluan lalu kau dan seisi tubuhmu bisa masuk begitu saja. Hah! Ini masalah kedisiplinan. Dan ini sudah peraturan jika kau terlambat, kau harus pulang.” Tambah satpam sambil mengacungkan pemukul andalannya.
Taeyeon yang menyaksikan adegan itu tambah gelisah. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa melihat kelakuan sahabatnya itu.
            ‘apa yang dilakukan bocah ini? Jelas-jelas dia dalam keadaan bahaya tapi mengapa begitu santainya dia. Dia pikir ini dia sedang bermain drama korea apa?’ pikir Taeyeon tanpa henti.
            Tak lama kemudian, seorang namja (laki-laki) yang berdiri dibelakang Taeyeon melintas, dan ternyata telah menyaksikan adegan itu dari awal. Dia adalah Wooyoung. Anak pemilik perusahaan Sumber Daya Alam terpopuler di Korea Selatan.
            “ya! Satpam! Biarkan gadis ini masuk!” Perintah Wooyoung dengan  wajah tegas.
            “apa-apaan kau ini? Membiarkan gadis pemalas ini masuk?” balas sang satpam.
            “mwo? Jangan sebut dia gadis pemalas!” Taeyeon mulai melangkah mendekat ikut dalam alur cerita.
            “hey... jika orang tuaku tidak memberikan sumber daya kepada dinas kota ini dengan cuma-cuma, Kampus ini tidak akan terbangun sebagus, sekeren, dan semewah ini. Kau tahu? Bahkan gerbang ini adalah bagian dari hartaku. Bukankah daerah ini pernah krisis sumber daya untuk membangun bangunan pencakar langit dikota ini? Dan kampus ini? Jadi, gerbang ini termasuk hartaku, kuasaku. Biarkan gadis ini masuk dan mengikuti mata kuliahnnya hingga akhir. Ini perintahku, aku yang akan bertanggung jawab.” Lanjut Wooyoung panjang lebar.
            Mendengar kata-kata itu, satpam membuka gerbang begitu saja, tanpa ragu. Tiffany hanya bisa mematung tidak mengerti mendengar ucapan gila Wooyoung barusan. Dengan cepat, Wooyoung meraih tangan Fany dan menuntunnya ke dalam.
            “LEPASKAN!!!” teriak Fany. Sayangnya, cengkeraman Wooyoung lebih kuat dari yang ia bayangkan.
            “ya! Wooyoung ah!!! Aku bukan gadis yang suka ditarik kesana kemari!” bentak Fany keras-keras hingga membuat kelas yang dilewatinya memusatkan pandangan pada kedua muda-mudi itu.
            Taeyeon juga ikut terpaku melihatnya. Namun ia kembali memarkir sepedanya dan sepeda Fany itu, dimanapun. Yang penting tempat kosong dan di daerah parkir. Setelah itu, Taeyeon mengekor i Tiffany dan Wooyoung. Begitu panas telinga Taeyeon mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fany. Bisa-bisanya gadis manis sepertinya berubah aneh sejak tadi pagi. Mulai dari tragedi membangunkannya sampai proyek si Wooyoung ini. Taeyeon meringis.
            Beberapa langkah sebelum masuk ke dalam kelas, Tiffany meledak.
“dasar namja tengik!” Fany memukul punggung Wooyoung.
“aw! Dasar! Kau yeoja (perempuan)....” Wooyoung terdiam sebentar menatap lembut ke dalam mata gadis yang berdiri di depannya itu.
“mwo?” Fany memfokuskan pikirannya sejenak ke namja yang sedang menatapnya.
Dan ...
Be continue
......Thanks For Reading.....
Mianhae buat yang salah ketik, salah kata, salah kenyambungan cerita coz ini FF romance perdananya author yang agak ber-drama (what? #abaikan).
Habis baca pliss dong krisarnya (kritik san saran) dong. Tapi kalo ga ada yang ngasih krisar, juga gapapa kok. Neomu neomu gomawoyo.... J
 


Soshi One

Soshi One